Senin, 06 Juli 2015

Semarak PDYD (Purwokerto Diocese Youth Day) 2015

Seribuan Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Purwokerto memenuhi Aula Paschalis, Katedral Purwokerto, Kamis (25/6/2015) sore pkl. 16.15 WIB. Para utusan dari 24 paroki di seluruh Keuskupan Purwokerto ini meramaikan gelaran Purwokerto Diocese Youth Day (PDYD) 2015 yang berlangsung dari 25-28 Juni 2015.

Berbagai kegiatan yang bertema “Diberkati untuk Berbagi” mewarnai PDYD ini seperti workshop teater, jurnalistik, liturgi, kewirausahaan yang dikemas menarik bagi orang muda. Juga pesta rakyat, games rakyat serta aneka perlombaan diikuti para peserta yang sudah akrab satu dengan yang lain.
Kegiatan empat hari dipuncaki dengan malam festival. Pertunjukkan gabungan antarparoki menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Para peserta saling unjuk kreativitas di panggung seni, Sabtu (27/6/2015) malam di Paschalis Hall, Katedral Purwokerto.

“Kolosal-kolosal pertunjukkannya keren-keren. Kreatif, luar biasa. Semuanya orang muda”, ujar Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Antonius Haryanto kepada Sesawi.net

Tampilan drama kumpulan pocong, gendrowu, tuyul dan lain-lain ingin mengkritik bagaimana manusia dengan mudah mempersalahkan setan apabila berbuat salah padahal manusia mencari senangnya sendiri.

Seni Dolalak yang disajikan banyak OMK menjadi bentuk sikap bahwa OMK juga mencintai budaya. Suasana makin meriah ketika vokalis grup band ‘Jikustik’, Pongki Barata tampil menghibur para peserta. Pongki pun berpesan supaya OMK berani hidup dan mengedepankan kejujuran.

PDYD ditutup hari ini Minggu, (28/6/2015) dengan perayaan Ekaristi dengan selebran utama Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka. Uskup Kemo, demikian kerap disapa mengajak orang muda menjadi garam dan orang yang mampu memberi keteladanan pada masyarakat.

Selain Keuskupan Purwokerto, ada 17 keuskupan lainnya yang juga bersiap diri menyelenggarakan acara Youth Day. “Tahun ini ada 18 keuskupan yang mengadakan Youth Day. 2 keusukupan mengadakan festival budaya,”ujar Romo Hary
Sumber : Sesawi.Net

Sabtu, 06 Juni 2015

ORANG MUDA KATOLIK
BERPOLITIK ???

Sumber : google.com
Sejarah Indonesia 1965 mencatat, aktivis muda Katolik dalam jagad perpolitikan, sosok Soe Hok Gie, Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara, dan lain-lain turut ambil bagian dalam sejarah bangsa. Sosok Soe Hok Gie, demonstran, tokoh muda kritis, non partisan, non ormasan, kolomnis, tionghoa menyuarakan suara-suara kritis kepada bangsa. Termasuk kritis kepada teman-teman aktivis Katolik yang masuk parlemen adalah suatu pilihan dan gaya berpolitik. Sosok Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara, tokoh politik muda Katolik, demonstran yang menerima tawaran masuk parlemen adalah suatu pilihan dan gaya berpolitik.

Bagaimana Sekarang?

Secara umum kita kehilangan musuh bersama, sehingga gerakan tidak fokus, kerja sporadis, dan kerja sendiri-sendiri. Dalam kehidupan dengan orang muda Katolik, khususnya di Surabaya, ada tegangan dalam memandang politik. Di satu sisi banyak kawan muda Katolik kita yang terlalu takut, “cenderung apriori” kepada dunia politik. Hal ini disebabkan pertama, minimalnya pendidikan dan pengetahuan politik. Kedua, terbatasnya pergaulan dan komunikasi dengan tokoh-tokoh politik (masyarakat). Ketiga, praktik politik yang kotor, haus kekuasaan, rawan konflik, rawan korupsi dan lain sebagainya yang beredar luas dalam masyarakat turut mempengaruhi cara pandang mereka.
Di sisi lain, ada sedikit kawan yang memandang politik sebagai ruang peran yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan umum termasuk di dalamnya menyalurkan kepentingan Katolik. Mereka diilhami pemikir besar yang mengatakan politik itu mulia. Ada beberapa kawan muda Katolik yang terlibat politik, saat ini menjadi anggota DPRD, ada pula yang berjuang dalam wadah politik lainnya

Dikotomi

Kita sering merasakan umat Allah, termasuk orang muda Katolik terlalu memisahkan (dikotomis), wilayah hierarki gereja adalah suci, dunia termasuk politik adalah kotor. Cara pandang kita terhadap persoalan gereja yang suci, dan dunia (politik) yang kotor membuat kita semakin rancu.
Kita perlu diingatkan pelaku sejarah dua wilayah adalah manusia. Selama manusia yang melakukan fungsi-fungsi itu selalu ada nilai baik atau buruk. Sangat tergantung moralitas manusia yang mengemban titah itu.
Sesuci-sucinya gereja, jika moralitas pimpinan tak bisa dipertangunggungjawabkan. Yang namanya korupsi, kolusi, nepotisme, penyelewengan jabatan dan seksual dan lain sebagainya bisa saja terjadi. (itu tercatat dalam sejarah).
Demikian pula, sebaik-baiknya sistem pemerintahan kita, jika moralitas pimpinan tak bisa dipertangunggungjawabkan, yang namanya korupsi, kolusi. Nepotisme, penyelewengan jabatan dan seksual dan lain sebagainya bisa juga terjadi.
Bagaimana menyikapi tegangan dan dikotomi ini? Perlu dipetakan dahulu wilayah itu. Pertama, kebanyakan kawan muda Katolik yang tidak terbiasa dengan kehidupan politik adalah dari kalangan muda yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan/kepemudaaan. Kebanyakan mereka menikmati masa muda tanpa organisasi atau organisasi lokal misal KMK, Mudika, dan lain-lain. Mereka terbiasa dilatih jadi kader gereja tetapi minimal dipersiapkan dalam wilayah publik. Namun, saya juga mendapati sedikit kader gereja yang tak kenal ormas, justru lebih energik dan kritis hal ini terkait pergaulan dan komunikasi dengan tokoh-tokoh politik tertentu.
Kedua, kebanyakan cikal bakal peminat politik adalah kaum muda Katolik jebolan organisasi kemahasiswaan/kepemudaan baik yang agamis ataupun sekuler. PMKRI, GMNI, PMII, Pemuda Katolik, LMND dan lainnya menyumbang besar bagi kaum muda Katolik peminat politik. Namun, tidak semua kaum muda Katolik lulusan organisasi itu politis, ada juga yang apolitis.
Di samping itu, kita mendapati fakta ormas kader Katolik sering bertempur internal yang kurang produktif. Ada Ormas Katolik mandeg dihuni terlalu lama (ada yang puluhan tahun) kader sendiri. Terlalu banyak dalih dikemukakan, terlalu banyak kepentingan sesaat dimainkan. Akhirnya ormas kemahasiswaan/kepemudaan Katolik semakin sepi peminat. Lalu siapa yang bakal jadi kader politik kita?
Ketiga, lembaga ”kaderisasi bayang-bayang” Katolik turut menyumbang lahirnya peminat politik. Mengingat bidang garapan yang berorientasi kepemimpinan dan kekuasaan publik, kader lembaga ini masih cukup bisa diperhitungkan.
Keempat, masih konsistennya lembaga kader pastor. Kebanyakan umat Katolik merasakan wilayah seminari dan pastor adalah wilayah suci agama Katolik. Umat menganggap wilayah ini bebas politis, kaum muda Katolik pun tidak sadar bahkan mengganggap gereja tidak bermain politik. Justru dengan konsisten pada wilayah itu gereja semakin politis. Gereja melanggengkan kekuasaan di tanah air. Gereja Katolik sudah mempersiapkan kader politik internal yang bakal mengisi kekuasaannya.
Ini wacana dan praktik supaya umat tidak terlalu apolitis (benci politik dan lain sebagainya). “Ini mungkin menyinggung hierarki, namun jangan marah.” Sebenarnya Jauh hari Gereja berpolitik, namun kadang umat kurang menyadarinya. Contoh lagi gereja berusaha mensejahterakan umat dengan sekolah, gerakan credit union atau lewat PSE (pengembangan sosial ekonomi) adalah salah satu politik gereja.
Melihat peta itu, kita punya sikap, pertama, wilayah politik perlu dimasuki generasi muda Katolik. Mengingat, kita punya tanggung jawab bersama menciptakan kesejahteraaan dan perdamaian bagi semua orang. Wilayah itu bukan wilayah tabu untuk dimasuki. Kita sering mengkambinghitamkan politik sebagai wilayah jahat, namun sejatinya segala wilayah kehidupan baik itu sosial, ekonomi, agama dan lain sebagainya juga mempunyai sisi-sisi suram. Tugas kita adalah menjadikannya cemerlang.
Kedua, hendaknya basis intelektual dan iman melandasi kita dalam berpolitik. Sebab tanpa intelegensia dan iman yang memadai kita gampang terperosok dalam bayang-bayang politik yang bisa didesain kotor.
Ketiga, Politik bukan sekedar wacana tetapi gabungan wacana dan praktik. Oleh sebab itu, kaum muda Katolik perlu didorong terlibat secara aktif sehingga pada saatnya siap menjadi kader dan leader di setiap lini.

Kendaraan

Inilah yang menjadi pokok keprihatinan kita, dulu era 1960 Katolik punya akses langsung kepada Partai Katolik, tetapi semenjak fusi tahun era 1970-an ke dalam PDI. Umat kita mengalami kebimbangan. Secara sejarah, umat Katolik dekat partai berbasis nasionalis, seperti PDI dan turunannya.
Kita perlu menyalurkan orang muda Katolik ke partai yang memungkinkan bisa masuk partai berbasis nasionalis PDIP, Golkar, Demokrat dll bisa dipertimbangkan. Partai berbasis Islam terbuka seperti PKB dan PAN juga pantas diperhitungkan.

Profesi

Sejatinya orang muda Katolik dihadapkan pada masalah keprofesian dirinya dan persoalan perut (masa depan). Kaum muda perlu berusaha sekuat tenaga dan pikirannya untuk memberdayakan dirinya ini. Kaum muda Katolik diharapkan berisi secara rohani dan materinya.
Secara profesi, kaum muda diarahkan menjadi banyak profesi tergantung cita-cita dan realitanya, ada yang diarahkan jadi pengusaha, dokter, insinyur, jaksa, hakim, tentara, polisi, birokrat, dosen, peneliti, pengacara dan lain-lain.
Jika suatu saat nanti disambungkan dengan dunia politik, kaum muda kita relatif nyambung baik, dan siap. Hal ini semakin baik apabila gereja yang menaungi, mempersiapkan generasi mudanya dengan bekal keduniaan/keprofesian/keintelektualan. Niscaya kader-kader muda gereja semakin diperhitungkan. Ada mutualisme yang saling menguntungkan, kaum muda berusaha dan bergerak demi masa depannya, gereja ambil bagian konkret dalam karya dunia yang lebih konkret pula.

Penulis : Kanisius Karyadi

Senin, 25 Mei 2015

Rembug Gayeng Regeng di Katedral Semarang



“REMBUG, GAYENG, REGENG”
Di Keuskupan Agung Semarang

 
sumber : koleksi foto Gereja Katedral Semarang
         Semarang, 24/05/2015. Kaum muda Katolik se-Keuskupan Agung Semarang dari segala penjuru berkumpul di Aula Keuskupan Agung Semarang. Bukan saja dari wilayah territorial Keuskupan Agung Semarang saja yang turut merapat ke Keuskupan Agung yang penuh catatan sejarah itu. Namun turut serta pula Kaum Muda dari wilayah Keuskupan Purwokerto, salah satunya kawan-kawan Pemuda Katolik Komisariat Cabang Banyumas.
           Ada apa gerangan kaum muda Katolik itu berkumpul? Pada hari yang berbahagai itu kaum muda Katolik di Semarang mengadakan agenda rutin yang diberi nama “Rembug, Gayeng, Regeng” dengan tema Gereja Mempersiapkan Kader Bangsa. Acara tersebut diisi oleh tokoh Katolik sekaligus Menteri Perhubungan RI, Bapak Ignatius Jonan dan RD. Edi Purwanto selaku Sekretaris KWI untuk berbincang-bincang bersama.
          Sesi yang pertama diisi sharing oleh Bapak Ignatius Jonan beserta Istri. Beliau merupakan salah satu Kader Katolik yang sukses di dunia bisnis dan perpolitikan. Nama beliau tidak hanya dikenal setelah menjadi Menteri, namun kesuksesannya patut untuk dipuji waktu beliau berkiprah di BUMN sebagai Dirut. PT Kereta Api Indonesia. Segala stretegi dia lakukan dalam pengembangan transportasi, khususnya kereta api. Mulai dari segi pelayanan sampai fasilitas interior kereta api itu sendiri. Berkat kesuskesannya di PT.Kereta Api Indonesia itu, beliau dipercaya Rakyat Indonesia untuk melenggang di kancah perpolitikan sebagai Menteri Perhubungan RI.
          Di moment ini, Bapak Jonan memberikan “wejangan” terhadap kaum muda Katolik agar dapat menjadi kaum muda Katolik yang terjun langsung ke masyarakat dan berkiprah bagi Negara. Beliau juga menuturkan pengalaman iman beliau sebagai umat Katolik tanpa harus memampangkan ke-Katolikannya itu.
          Pada sesi yang kedua RD. Edi Purwanto menambahkan bahwa sebagai kader gereja, kita juga harus berperan penting juga sebagai kader Bangsa. Tidak jauh berbeda dengan ajakan Mgr.Soegijapranata, 100% Katolik dan 100% Tanah Air.

Penulis : Robertus Aditya